Pengembangan PLTP Sarula Tunggu Pihak Jepang

 

Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarula masih menunggu pengalihan aset dari Sarula Operation Limited ke pengembang baru Pertamina Geothermal Energi (PGE).

Meski demikian, pengembangan proyek tersebut tetap sudah bisa berjalan.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana mengatakan, saat ini sudah ditandatangani Peraturan Bersama Menteri ESDM, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Menteri Keuangan untuk melaksanakan rencana pengembangan proyek PLTP Sarulla.

Selain itu, Rida menambahkan, Joint Operation Contract (JOC) dan Energy Sale Contract (ESC) juga telah ditandatandangi pihak-pihak terkait seperti Pertamina Geothermal Energi (PGE) dan pembeli listrik yaitu PLN.

Namun, saat ini, kedua kontrak tersebut masih menunggu persetujuan dari pihak SOL perihal pengalihan aset Sarulla ke PGE.

“Jadi yang sudah ditandatangani itu perbermen, terus JOC, dan ESC juga sudah. Semua pihak yang dari kita udah tanda tangan, tinggal SOL aja. Mereka nunggu juragannya yang mau datang dari Jepang,” kata Rida, Senin (18/2/2013).

Meski masih menunggu peralihan aset, Rida optimis proyek PLTP Sarulla dapat beroperasi sesuai jadwal yang ditentukan pada 2016.

Agar proyek tersebut dapat selesai tepat waktu, dia meminta pihak SOL untuk segera menandatangani JOC dan ESC agar PLTP Sarulla segera dibangun.

“Targetnya 2016, belum ada mundur kok. Tapi yang penting JOC diteken gitu. Kita minta setelah Jepang datang ya sesegera mungkin,” tutup Rida.

Sebagai informasi, Awalnya, proyek PLTP Sarulla pada 1994 dikelola oleh Unicoal North Sumatera Geothermal. Namun, kemudian diambil alih PLN pada 2003 karena tidak ada kesepakatan harga dengan pihak Unicoal dengan membayar jaminan arbitrase sebesar US$ 70 juta.

PLTP Sarulla seharusnya digarap SOL sejak 2007. Namun, hingga sekarang belum juga terealisasi karena konsorsium Sarulla tidak bisa menjaminkan aset untuk mendapatkan pinjaman.

Padahal PLTP berkapasitas 330 megawatt ini seharusnya sudah mulai mengalirkan listrik sejak tahun lalu.

PLN dan SOL telah menandatangani perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dengan harga listrik USD 6,7 sen per kilowatt hour (kWh) dengan eskalasi 2% per tahun. (Pew/Nur)

http://bisnis.liputan6.com/read/515632/pengembangan-pltp-sarula-tunggu-pihak-jepang

PLTP Kamojang 5 dan Lahendong 4 akan Beroperasi 2014

PLTP Kamojang 5 dan Lahendong 4 akan Beroperasi 2014

Pertamina akan mulai mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang dan Lahendong 2014 mendatang. Kedua PLTP, pada Sabtu ini diresmikan pembangunannya oleh Menteri ESDM Jero Wacik

Peletakan batu pertama Pembangunan PLTP Unit 5 Kamojang berkapasitas 30 MW dan pengembangan lapangan panasbumi Lahendong untuk suplai uap ke PLTP Unit 4 Lahendong diharapkan dapat meningkatkan peran panas bumi untuk ketahanan energi nasional.

Peresmian kedua proyek tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti yang dilakukan di Gedung Dipa Bramanta Kantor PGE Area Kamojang oleh Menteri ESDM Jero Wacik yang didampingi Direktur HuluPertamina Muhammad Husen, Sabtu (12/1/2013).

Dua proyek panas bumi tersebut adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Unit 5 Kamojang, serta pengembangan lapangan Lahendong untuk suplai uap ke PLTP Unit 4 Lahendong.

PLTP Unit 5 Kamojang yang dikelola oleh Pertamina Geothermal Energy merupakan pengembangan dari 4 unit PLTP yang sudah ada dengan kapasitas terpasang saat ini 200 MW.

Corporate Secretary PT Pertamina Geothermal Energy Adiatma Sardjito, dalam siaran persnya, Sabtu (12/1/2013) menyebutkan PLTP direncanakan mulai beroperasi 2014 mendatang, dengan penambahan kapasitas sebesar 30MW.

Lokasi PLTP Unit 5 Kamojang berdampingan dengan lokasi PLTP Unit 4 Kamojang dalam satu lahan seluas 3.85 Ha, yang terletak 42 km sebelah Tenggara Kota Bandung atau 23 sebelah Barat Laut kota Garut.

Sementara itu prospek Lahendong seluas 12 km persegi memiliki sumber daya sekitar 300 MW dengan cadangan terbuktikan sebesar 80 MW.

Panas bumi dari Lahendong merupakan salah satu pilar pendukung pasokan listrik di Sulawesi Utara, yang 40% di antaranya telah bersumber dari energi panas bumi.

“Pertamina menyambut baik penugasan yang diberikan oleh Pemerintah untuk segera memanfaatkan energi panas bumi yang terkandung dalam bumi Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Direktur Hulu Muhammad Husen.

“Dua proyek dari Pertamina Geothermal Energy ini merupakan bagian dari tekad Pertamina untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan, terutama yang bersumber dari panas bumi,” lanjut Husen.

Pertamina Geothermal Energy merupakan anak perusahaan Pertamina yang mengelola 14 wilayah kerja panas bumi yang tersebar di pulau Sumatra, Jawa, Bali dan Sulawesi.

Pertamina Geothermal Energy saat ini menghasilkan listrik sebesar 402 MWe yang berasal dari lapangan panasbumi Kamojang, Lahendong, dan Sibayak.

Pertamina Geothermal Energy juga sedang melakukan eksplorasi di berbagai daerah seperti, Lumut Balai (Sumatra Selatan), Ulubelu (Lampung), Hululais (Bengkulu), Sungai Penuh (Jambi).

Diharapkan pada 2014 dapat mencapai energy availability panas bumi perusahaan sebesar 100.000 BOE.

Baru-baru ini, Pertamina Geothermal Energy mulai memproduksi uap panas bumi untuk pasokan ke PLTP Ulubelu 2×55 MW yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 6 Desember 2012 bersama proyek-proyek lainnya.

Selain itu, Pertamina Geothermal Energy juga telah berhasil membor dan menguji produksi untuk sumur HLS C1, Hululais, dengan kapasitas 15 MW pada September 2012. (Igw)

sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/486055/pltp-kamojang-5-dan-lahendong-4-akan-beroperasi-2014/?related=pbr&channel=b

Pembangunan PLTP Sarulla Ditargetkan 2013

Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) r804dh6EmpSarulla mulai dibangun pada tahun depan.

Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, pengembangan PLTP tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mengoptimalisasikan pengembangan pembangkit listrik berbasis panas bumi, apalagi dalam proyek percepatan 10.000 megawatt (MW) tahap kedua panas bumi memiliki porsi yang besar.

“Surat keputusan bersama menteri sudah siap tahun ini harus tanda tangan supaya tahun depan bisa dimulai proyek Sarulla,” ujar Jero dalam situs resmi Kementerian ESDM, Jumat (13/7/2012).

Jero menuturkan besaran tarif untuk listrik panas bumi diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2 Tahun 2011 tentang penugasan kepada PT PLN (Persero) untuk melakukan pembelian listrik dari PLTP dan harga patokan pembelian tenaga listrik oleh PLN dari PLTP. Dalam pasal 2 aturan ini disebutkan, harga patokan tertinggi untuk listrik panas bumi ditentukan sebesar US$ 9,7 sen per kilowatt hour (kWh).

Ia menjelaskan PLTP yang dibangun di wilayah Jawa memang bisa menghasilkan listrik dengan harga di bawah US$ 9,7 sen/kWh. Misalnya, harga listrik di PLTP Tampomas di Jawa Barat sebesar US$ 6,6 sen/kWh, PLTP Tangkuban Perahu US$ 5,9 sen/kWh, dan PLTP Ungaran US$ 8,09 sen/kWh.

Sementara itu, lanjut Jero, untuk PLTP Jailolo di Maluku Utara harga listrik panas bumi mencapai US$ 19,1 sen/kWh, dan di PLTP Jaboi, Aceh sebesar US$ 18,9 sen/kWh. Hingga saat ini, kapasitas terpasang pembangkit panas bumi sampai pertengahan 2012 ini baru 1.226 MW. Padahal, potensi energi jenis ini di Indonesia mencapai 29.000 MW.

Reporter: Fajar Sudrajat – Editor: Shinta Sinaga

PLTP Sarulla Tertunda 23 Tahun, Jero: Harus Groundbreaking Sebelum KIB II Berakhir

Jakarta - Menteri ESDM Jero Wacik meminta proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Sarulla berkapasitas 330 megawatt (MW) harus bisagroundbreaking atau pemancangan tiang pertama sebelum Kabinet Indonesia Bersatu jilid II berakhir.

 

“Proyek PLTP Sarulla ini sudah dimulai sejak tahun 1990 di WKP (Wilayah Kerja Perkembangan) Sarulla. Namun akhirnya April ini bisa dimulai,” ucap Jero di acara Penyerahan Persetujuan Amandemen Energy Sale Contract & Join Operation Contract PLTP Sarulla, di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (11/4/2013).

Dikatakan Jero, dengan berbagai dobrakan yang dilakukan Keme

nterian ESDM, Kementerian BUMN, UKP4 akhirnya benang kusut yang menghambat proyek Sarula hampir 23 tahun ini bisa terusai dan bisa mulai berjalan.

“Harapan saya proyek PLTP Sarulla ini bisa segera groundbreaking sebelum pemerintahan Kabinet ini berakhir Oktober 2014 nanti,” ucapnya.

Untuk itu Jero meminta setiap pejabat dan swasta yang terlibat dalam proyek ini bisa mempercepat semua urusannya. “Kalau ada yang menghambat, silakan telepon saya,” ujarnya.

Proyek Sarulla ini, kata Jero, sangat penting bagi Indonesia, sebagai proyek panas bumi terbesar di dunia PLTP Sarulla ini bisa menghemat subsidi listrik Rp 4 triliun per tahun.

“Besar manfaatnya, bisa hemat subsidi listrik Rp 4 triliun per tahun, apalagi kapasitasnya sangat besar, ini tentunya dapat membantu masyarakat yang terus ingin pasokan listrik,” tandasnya.

Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga Menteri terkait pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarullah segera dikeluarkan.

panas bumi1Jakarta, EnergiToday – Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga Menteri terkait pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarullah segera dikeluarkan. Saat ini tinggal menunggu keputusan Menteri BUMN Dahlan Iskan, dan Pertamina. Dengan demikian, proyek pengembangan PLTP Sarulla sudah bisa dimulai pada 1 Februari.
Hal itu diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik, di Jakarta, kemarin. SKB proyek pengembangan Sarulla telah selesai, dan pada 1 Februari sudah bisa dimulai.
Dia menambahkan, SKB Menteri ESDM, Menteri BUMN, dan Menteri Keuangan diperlukan untuk memperjelas kepemilikan aset di wilayah kerja panas bumi. Point yang ada dalam SKB tersebut, aset negara di hulu panas bumi Sarulla dikelola oleh PT Pertamina (Persero), sementara hilir disesuaikan dengan isi kontrak dengan panas bumi. SKB memberikan izin kepada pengembang untuk menjadikan aset sebagai jaminan pinjaman. Jangka Waktu lamanya aset menjadi jaminan yaitu selama masa pendanaan.

Proyek PLTP Sarulla Tunggu Persetujuan Pemegang Saham

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan Peraturan Bersama Menteri, yakni mr804dh6Empenteri ESDM, menteri BUMN, dan menteri keuangan terkait rencana pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla telah ditandatangani. Alhasil, proyek tersebut bisa segera dijalankan.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, saat ini Joint Operation Contract (JOC) danEnergy Sale Contract (ESC) telah ditandatandangi oleh pihak-pihak terkait seperti Pertamina Geothermal Energi (PGE) dan pembeli, yakni PT PLN juga telah selesai.

Namun, saat ini kedua kontrak tersebut masih menunggu persetujuan dari pihak Sarulla Operation Limited (SOL) terkait pengalihan aset Sarulla ke PGE.

“Kan JOC diamandemen, semua harus diulang. Harga tidak berubah, diteken ulang saja. Jadi yang sudah ditandatangani itu peraturan bersama menteri, terus JOC-nya, dan ESC-nya juga sudah. Semua pihak yang dari kita sudah tanda tangan, tinggal SOL saja. Mereka tunggu juragannya yang mau datang dari Jepang,” ungkap Rida, yang ditemui usai Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (18/2/2013).

Rida menambahkan, pihak SOL masih menunggu kepastian dari Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) terkait pajak pengalihan aset Sarulla tersebut. Rida optimis proyek pengembangan PLTP Sarulla tersebut dapat dijalankan tahun ini.

“Harus, pak menteri kan sudah bilang harus. Kalau semua tanda tangan berarti semua administrasi sudah terpenuhi, harus jalan,” tambahnya.

Rida yakin, proyek PLTP Sarulla dapat beroperasi sesuai jadwal yaitu pada 2016 mendatang. Dia meminta petinggi SOL untuk segera datang ke Indonesia dan menandatangani JOC dan ESC agar PLTP Sarulla segera dibangun.

“Targetnya 2016, belum ada mundur kok. Tapi yang penting JOC diteken itu. Kita minta setelah Jepang datang, ya sesegera mungkin. Bulan ini lah,” tegas Rida.

Sekedar informasi, PLTP Sarulla seharusnya digarap oleh SOL sejak 2007 lalu. Namun, hingga sekarang belum juga terealisasi karena konsorsium Sarulla tidak bisa menjaminkan aset untuk mendapatkan pinjaman. Padahal PLTP berkapasitas 330 megawatt (mw) ini seharusnya sudah mulai mengalirkan “setrum”-nya sejak tahun lalu.

Saat ini kebutuhan daya pembangkit di wilayah itu sebesar 1.480 megawatt (mw). Sementara beban puncaknya mencapai 1.200 mw. Padahal pertumbuhan permintaan listrik di sana menembus angka 10 persen. PLN dan SOL telah teken perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dengan harga listrik USD6,7 sen per kilowatt hour (kwh) dengan eskalasi dua persen per tahun.

Awalnya, proyek PLTP Sarulla pada 1994 dikelola oleh Unicoal North Sumatera Geothermal. Namun, kemudian diambil alih PLN pada 2003 karena tidak ada kesepakatan harga dengan pihak Unicoal dengan membayar jaminan arbitrase sebesar USD70 juta.

PLN kemudian melelang proyek ini, serta akhirnya didapat oleh konsorsium SOL, yaitu Medco 37,5 persen, Kyushu Electric (Jepang) 25 persen, Itochu Corporation (Jepang) 25 persen, dan Ormat International. (wdi)

sumber : http://www.okefood.com/read/2013/02/18/19/763663/proyek-pltp-sarulla-tunggu-persetujuan-pemegang-saham

Menkeu Serahkan Surat Jaminan PLTP Sarulla

 

Tampak Menteri Keuangan Menyerahkan Surat Jaminan Kelayakan Usaha Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Sarulla kepada konsorsium Sarulla Operations Limited (SOL) pada Kamis (11/4/2013) di Jakarta.

Tampak Menteri Keuangan Menyerahkan Surat Jaminan Kelayakan Usaha Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Sarulla kepada konsorsium Sarulla Operations Limited (SOL) pada Kamis (11/4/2013) di Jakarta.

CIN- Setelah lama terkatung- katung, pemerintah melalui Menteri Keuangan secara resmi  menyerahkan Surat Jaminan Kelayakan Usaha Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Sarulla, kepada konsorsium Sarulla Operations Limited (SOL), Kamis (11/4/2013) di Jakarta.

“Setidaknya proyek ini akan mengurangi beban PLN memasok kebutuhan listrik di daerah kita,” ujar Hasan Basri, warga Sarulla kepada CIN di rumahnya.

Ia mengatakan, kampungnya memang kerap turun lampu. “Kadang- kadang saat anak- anak belajar. Tiba- tiba turun. Gelap, kasihan mereka,” tambahnya seraya berharap konsorsium itu cepat mengalirkan listrik hingga ke pedesaan Sarulla.

Dari Jakarta, Menteri Keuangan Agus Marto juga berharap konsorsium itu merealisasikan proyek tersebut secepatnya. (sarman/friz)

http://citraindonesia.com/menkeu-serahkan-surat-jaminan-pltp-sarulla/

Setelah Mangkrak 20 Tahun PLTP Sarulla Kembali Dibangun

98pltp-sarullaSetelah sempat mangkrak sejak tahun 1993, akhirnya pemerintah melanjutkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla. Hal tersebut ditandai dengan penyerahan Persetujuan Amandemen (Energy Sale Contract) (ESC) atau Joint Operation Contract (JOC) Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla dengan kapasitas 3×110 Mega Watt (Mw) kepada PT PLN (Persero) dan Pertamina Geothermal Energy (PGE).

Dalam acara tersebut, diserahkan juga Surat Jaminan Kelayakan Usaha (SJKU) dari Menteri Keuangan Agus Martowardojo kepada konsorsium Sarulla Operations Limited (SOL).

Direktur Utama PT PLN, Nur Pamudji berharap berharap proyek memberikan kontribusi bagi pembangunan dan ramah lingkungan, karena untuk persiapan proyek tersebut sudah dimulai sejak tahun 1993.

Nantinya, Konsorsium akan bertugas membangun PLTP di dua lokasi yaitu Silangkitang (220 MW) dan Namora (110 MW) dengan transmisi 150 kV sepanjang lebih kurang 15 kmr dari kedua lokasi pembangkit PLTP sampai ke GI Sarulla milik PLN.

Pembangunan PLTP Sarulla dibagi dalam tiga tahap. Tahap pertama mulai tahun 2016, tahap kedua beroperasi tahun 2017, dan tahap ketiga beroperasi 2018. Adapun listrik yang diproduksi dari PLTP tersebut untuk memasok kebutuhan listrik PLN dengan harga rata-rata US$6,79 sen per KW.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik mengatakan, untuk meningkatkan rasio elektrifikasi dan menumbuhkan pembangunan ekonomi di daerah, pemerintah harus mempercepat proyek-proyek pembangunan listrik.

Proyek PLTP Sarulla 330 MW masuk dalam daftar proyek percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik yang menggunakan energi Terbarukan sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 tahun 2010 jo Permen ESDM 01 tahun 2012.

Peraturan itu menegaskan PLN melakukan percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik tersebut sesuai dengan Peraturan Presiden nomor 4 tahun 2010. Oleh karena itu, pemerintah melalui Menteri Keuangan akan memberikan Jaminan Kelayakan Usaha terhadap proyek ini, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 139 Tahun 2011

sumber :http://satunegeri.com/setelah-mangkrak-20-tahun-pltp-sarulla-kembali-dibangun.html